Tuhan itu Maha Lucu


-ooo-



"Kamu tahu apa yang paling lucu di hidup ini? Tuhan"

Dengan sorotan mata sinis dia menatap Cakra tajam. Senyumnya kini mulai melambung, mengikuti gerakan wajahnya yang angkuh. Dari kejauhan, berjejer mobil-mobil mewah mengkilat di bawah lampu penerang jalan. Mereka berdua lama berdiri, menatap kesenjangan sosial yang semakin membuat hati mereka ciut. Sementara baju lusuh dan sandal jepit mereka tak mampu menutup rasa kebanggaan, kecuali gitar tua yang siap menjadi alat tempur untuk mencari pundi-pundi makan.

"Kalau kamu mencoba mengolok-olok Tuhan karena kamu merasa hidup kita apes, aku bilang sekali lagi, Bon, aku bosan". Kata Cakra sambil memalingkan muka. Dia tahu betul arah pembicaraan ini akan kemana : mengeluh kepada Tuhan, yang akan dijawab dengan kekosongan. Aku sudah kenyang dengan penantian, batin Cakra dalam hati.

"Kra, denger dulu. Katanya Tuhan adil, mana buktinya? Orang buat makan tiap hari aja kudu mikir-mikir dulu, sampai pusing. Dia cuma halusinasi, apa ya?"

"Entahlah, Bon. Lagian, hidup ini kan cuma candaan aja, sekedar guyonan. Kita ketawa aja, gimana?" Cakra merangkul Bono, lalu pergi melewati gedung pencakar langit berisi manusia-manusia pencari uang. Mereka berjalan menjauh, menanggalkan semua mimpi siang bolong.



---

Tok tok tok. Suara ketukan pintu terdengar cepat. Seorang wanita memakai pakaian blaster hitam dan rok pendek menggerutu pelan menunggu jawaban dari si empu ruangan. Sudah berkali-kali dia mencoba menghubungi pimpinan mereka sejak pagi-pagi, namun tak digubris sama sekali. Gelagat bos hari ini aneh sekali, batinnya menggumam.

"Pak, siang ini ada rapat besar dengan perusahaan Jepang membahas kerjasama projek kita. Apakah Bapak sudah siap?", Kata wanita itu dengan aksen lembut yang dibuat-buat. Dengan gelisah dia menyeka keringat yang mulai bercucuran, berharap ada balasan.

Namun ruangan masih bergeming. Hening dan hampir tidak ada suara yang keluar dari dalam, kecuali bunyi suara mesin AC yang menyala di kantor paling atas gedung itu. Wanita itu semakin gelisah. Dia membalikkan badan, dan memutuskan untuk menghubungi petugas keamanan.

Sementara itu, di dalam ruangan, terlihat sesosok pria dengan setelan jas lengkap dengan dasi merahnya, berdiri mendongak dibelakang jendela besar yang setengah terbuka. Raut mukanya menunjukkan keletihan luar biasa.

"Setelah aku bisa sampai sini, kenapa aku tidak merasakan apa-apa? Ah, lucu sekali", Kata pria itu lirih dengan posisi masih mendongak ke langit, seolah sedang berbincang dengan Sang Semesta.

Dia bangkit dari pikiran panjangnya dan mengangkat kaki kirinya, lalu kaki kanannya ke tepi jendela dengan langkah mantap. Keputusannya kali ini sudah tepat. Dengan satu langkah, dia melompat bebas tanpa kuda-kuda. Dia terbang jatuh, merasakan atraksi terakhir dalam hidupnya.

"PAK CAKRA BUNUH DIRI!", Teriak karyawan-karyawan dari lantai dasar histeris berlari dan mengerubungi badan pimpinan mereka yang porak-poranda tak berbentuk. Tatapan kaget dan ngeri terpasang di semua wajah orang-orang sekitar, tak percaya bahwa pimpinan mereka yang terkenal rajin dan giat bekerja, yang berawal dari posisi bawah sampai paling atas, telah tewas mengenaskan.



----

(flashback, 20 tahun yang lalu)

"Kra, suatu hari, andaikan satu dari kita sudah beneran tahu kalau hidup itu memang ada Tuhannya dan bisa ngerasain apa itu bahagia, jangan lupain sahabatmu ini", Sahut Bono bersemangat dengan menenteng koin receh yang apabila dihitung bisa sampai 40 ribu. Cukup untuk makan dua orang, dua hari.

Cakra mengangguk diam sambil mengamati manusia disebelahnya dengan kagum. Dia selalu ada dan hadir dari dia masih balita. Setelah orangtua serta keluarga yang sama sekali asing membuangnya di jalanan, Bono merawat dan membesarkannya bagaikan anaknya sendiri. Hubungan ikatan mereka lebih dari apapun, walaupun terpaut 15 tahun.

Cakra. Begitulah nama panggilan sekaligus nama panjang yang diberikan Bono. Tak ada alasan apapun, hanya kebetulan dapat ide setelah jalan-jalan dari toko roti dan melihat tepung dengan merek cakra. Cakra menyayangi, pun memuja Bono seutuhnya. Tanpa alasan apapun.

Dari arah belakang, muncul seorang pria tinggi dengan lengan gempal menghampiri mereka. Belati pisau menari-nari di udara dengan kilatan tajam. Seketika pria itu menusuk Bono dari belakang dan mengambil uang, serta gitar berharga yang dia bawa, kemudian lari kencang tanpa menengok.

Cakra menyaksikan semua itu dengan perasaan kalut. Darah merah segar mengalir deras tanpa henti. Cakra buyar, kemudian menggendong Bono berlari dengan langkah gontai mencari bantuan.

"Bon, tahan bon! Semua bakal baik-baik aja! Bon, tahan bon, bentar lagi sampai, tahan!", Cerocos Cakra tanpa henti. Dengan tetap menggendong, dia melangkah lebih cepat. Deru napasnya beradu dengan ketakutan luar biasa yang mulai hinggap di pikiran dan benaknya.

Namun tidak ada suara dari badan itu. Matanya sudah tertutup rapat dan tidak ada hembusan nafas lagi. Sekujur badannya berwarna merah."Tuhan itu memang lucu", kalimat terakhir yang sempat Cakra dengar dari Bono membuatnya meneteskan air mata tanpa henti.

3 komentar

  1. Duuh...pagi2 baca cerpen begini, perasaanku jadi ikut miris.

    Menurutmu gimana, Diko? Tuhan itu lucu, nggak?

    BalasHapus
  2. Menurut aku Tuhan punya humor yang cukup tinggi karena tau apa yg bisa dipikul oleh seseorang dgn kapasistasnya :)

    BalasHapus
  3. selain lucu, Tuhan juga misterius...
    *nyruput kopi

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, link hidup akan dihapus. Terimakasih sudah membaca :)